Minggu, 27 Februari 2011

Puisi

HARYONO SOEKIRAN.


HUJAN INI KALI

Hujan ini kali benar-benar seluruh tanaman luruh
rasakan betapa dingin, sehingga seekor kadal-pun menggeliat
mencari tempat bersembunyi agar tak kecipratan air.
Hujan ini kali sepasang angsa bercinta di halaman rumah
sehingga ia berharap hujan tetap membadai
sekali-pun petir nyambar tak takut tubuhnya bakal cerai berai.

"Kita lampaui saja," seru-mu
aku-pun tak mau bergegas lantaran sungguh sudah lama
menunggu bau tanah merah tersiram air yg bukan menjadi banjir.

Purbalingga, 2011.


KAU

Setelah pertemuan di ujung jalan itu
kau berubah ujud, aroma dan rasa
sudah warna putih memplak kutangkap
dari segala penjuru sampai tiarap
wahai, tawananku
kemana-pun kau selalu ikuti
padahal sudah bosan ditipu pikiran
bahkan sampai lelah ke tulang-tulang.

Kembali ke rumah Tuhan
hati putih warna putih mata putih
abadi cintaku.

Purbalingga, 2011.


SUNGAI KERUH


Sungai yang dulu tempat mandi bersama teman-teman
kini berubah warna sangat keruh dan gaduh
betapa aku ingin segera mencebur
walau-pun minta sedikit untuk menghibur
nahan saga-nya kapitalisme.

Sungai yang ngalir dari ujung benua
kini sudah di depanku lagi
dan kesangsian muncul bertubi-tubi
masihkah aku bisa berenang di dalamnya
agar tak hanyut tergerus ombaknya.


Sungai keruh tetap sesak lumpur
hatiku gaduh tanpa peng-hibur.

Purbalingga, 2011.

Kamis, 13 Januari 2011

PUISI JANUARI

MALAM PERTAMA

Tak ada yang bisa terucap
manakali matahari
tertabrak bulan
san menjadi luka
segobang-gobang.

Januari 2011.


MALAM KEDUA

Sudah kubuka
kain putih yang nutup muka-mu
ternyata telah menjadi sarang kelelawar
hingga setiap malam
Engkau selalu bermata burung hantu malam.

Januari 2011.


MALAM KETIGA

Bau parfum nyengat
"siapakah yang sudah bermandi cahaya"
banyak bershaf-shaf kunang beterbangan
mendekat muara bau itu
yang tak pernah ketemu.

Duhai, semerbak
bangunkan dari nyenyak lelap-ku
untuk menjumpai-mu.

Januari 2011.


MALAM KEEMPAT

terkapar
tak berdaya
nunggu jelalatan mata.


Januari 2011.